Sejak mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar hingga sekarang, peran beasiswa dalam kamus pendidikan saya tidak pernah berhenti. Saat duduk dibangku SD, untuk pertama kalinya saya mengenal istilah beasiswa, walaupun hanya mendapatkan selama 1 tahun. Ketika masuk di bangku SMP dan SLTA pun juga sama, saya juga tidak pernah absen untuk mendapatkan beasiswa dari sekolah meski tidak meng-cover seluruh biaya selama studi. Ketika Kuliah S1 juga sama, beasiswa juga pernah saya dapatkan meski hanya 1 kali periode saja.
Setelah selesai studi S1, Alhamdulillah saya bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jawa Tengah. Terbersit pemikiran waktu itu bagaimana agar bisa melanjutkan studi S2 dengan beasiswa dari pemerintah, karena dengan system kerja dan gaji pas-pasan selama di perusahaan tidak akan mungkin untuk bisa melanjutkan studi dengan biaya sendiri. Bahkan untuk memperoleh informasi mengenai beasiswa studi lanjutpun, waktu itu sangat minim sekali.
Satu setengah tahun bekerja di perusahaan swasta, rasanya tidak mungkin bagi saya untuk mewujudkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu S2. Tentunya setelah kesana-kesini mencari informasi, peluang yang sangat besar untuk bisa melanjutkan studi adalah dengan menjadi dosen. Alhamdulillah di tahun 2003 saya lolos seleksi untuk bisa menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasata di Semarang. 4 tahun bekerja menjadi dosen, dan mempelajari bagaiamana tips, trik dan cara untuk studi lanjut dan mendapatkan beasiswa, akhirnya di tahun 2007 saya mencoba memberanikan diri untuk mendaftarkan diri di program pascasarjana S2 Teknik Elektro di UGM Yogyakarta. Meski harus deg-degan karena mendapatkan pengumuman lolos beasiswa BPPS dari DIKTI untuk periode yang terakhir, akhirnya untuk pertama kali saya bisa mendapatkan beasiswa BPPS full selama 2 tahun dari DIKTI.
Alhamdulillah 2 tahun menjalani kuliah S2 di UGM, tahun 2009 saya diwisuda menjadi seorang Master of Read the rest of this post